Consumer Behavior ( Kelas Perilaku
Konsumen ) Tuesday afternoon Departement of Family and Consumer Sciences.
College of Human Ecology. Bogor Agricultural University.
Lecturer: Prof.Ir.Ujang Sumarwan, MSc.
Session 2 www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id
Teori Kepribadian
Oleh Fika Fatia Qandhi, Mayor SKPM (Ilmu Keluarga
dan Konsumen)
Collage of Human Ecology
Sifat manusia berbeda antara satu
dengan yang lainnya. Perbedaan karakteristik yang paling dalam pada diri
manusia, perbedaan karakteristik tersebut menggambarkan cirri unik dari
masing-masing individu. Inilah yang disebut dengan kepribadian, dimana
kepribadian terkait dengan perilaku konsumen. Kepribadian dapat dijadikan dasar
dalam melakukan pemangsaan pasar (market
segmentation). Perbedaan karakteristik akan mempengaruhi akan mempengaruhi
individu. Individu dengan karakteristik yang sama cenderung akan bereaksi yang
relatif sama terhadap situasi lingkungan yang sama. Kepribadian menggambarkan
respons yang konsisten dan berlangsung lama dan kepribadian dapat berubah.
Terdapat tiga teori kepribadian yang
utama yaitu: teori kepribadian Freud, yang menyatakan bahwa kebutuhan yang
tidak disadari atau dorongan dari dalam diri manusia adalah inti dari maotivasi
dan kepribadian manusia yang didalamnya termasuk Id, Superego, dan Ego.
Selanjutnya adalah teori kepribadian Neo-Freud, dimana hubungan sosial adalah
faktor dominan dalam pembentukan dan pengembangan kepribadian manusia. Kemudian
adalah teori ciri, yang menggunakan pendekatan kuantitatif dalam mengukur
kepribadian konsumen. Teori cirri mengklasifikasikan manusia ke dalam
karakteristik, sifat, atau cirinya yang paling menonjol.
Horney mengemukakan model kepribadian
manusia, yaitu: compliant
(kepribadian yang dicirikan adanya ketergantungan seseorang kepada orang lain),
aggressive (kepribadian yang
dicirikan adanya motivasi untuk memperoleh kekuasaaan), dan detached (kepribadian yang dicirikan
selalu ingin bebas, mandiri, mengandalkan diri sendiri, dan ingin bebas dari
berbagai kewajiban).
Memahami kepribadian tidaklah lengkap
jika tidak memahami konsep gaya hidup. Kepribadian merefleksikan karakteristik
internal dari konsumen, gaya hidup menggambarkan manifestasi eksternal
karakteristik tersebut, yaitu perilaku seseoarang. Gaya hidup seseorang
biasanya tidak permanen dan cepat berubah. Konsep yang terkait dengan gaya
hidup adalah psikografik. Psikografik adalah suatu instrumen untuk mengukur
gaya hidup, yang memberikan pengukuran kuantitatif, dan bisa dipakai untuk
menganalisis data yang sangat besar. Pendekatan psikografik sering dipakai
produsen dalam mempromosikan produknya. Studi psikografik bisa dalam beberapa
bentuk, yaitu: profil gaya hidup, profil produk spesifik, segmentasi gaya
hidup, dan segmentasi produk spesifik.
Para pemasar berusaha mengetahui
kepribadian konsumen dan apa pengaruhnya terhadap perilaku konsumsi. Pemahaman
tersebut sangat penting agar pemasar dapat merancang komunikasi yang sesuai
dengan sasaran konsumen yang dituju. Pemasar mengharapkan konsumen menilai
bahwa produk atau jasa tersebut sebagai sesuatu yang cocok kepribadiannya
sehingga mereka menyukai, membeli, dan menggunakan produk dan jasa tersebut.
Beberapa kepribadian ciri yang khusus dikembangkan untuk kepentingan studi
perilaku konsumen adalah kepribadian cirri inovatif konsumen, dogmatism, dan
karakter sosial.
MK. Perilaku Konsumen
Selasa, 13.00-15.00
Kelompok 37-40 :
1. Karakter Positif:
·
Ramah
·
Simpati dan empati
·
Mau bekerjasama
·
Pekerja keras
·
Mandiri
·
Terbuka
·
Humoris
·
Simpel
·
Konsisten
2. Karakter Negatif:
·
Boros
·
Suka menunda pekerjaan
·
Kurang teliti
·
Pelupa
·
Tergesa-gesa
·
Sensitif
·
Berprasangka buruk
3. Gaya hidup masyarakat
sekarang cenderung konsumtif. Hal ini terjadi karena moderenisasi sudah mewabah
pada zaman globalisasi sekarang ini. Masyarakat berlomba-lomba untuk terus up
to-date terhadap perkembangan yang terjadi. Contohnya:
·
Pada barang elektronik, smart phone yang
sedang menjadi trend ini diburu oleh semua kalangan. Padahal mereka sudah
mempunyai handphone yang sebenarnya mempunyai fasilitas yang hampir sama dari
smartphone, tetapi karena ingin mengikuti trend, mereka membelinya tanpa
berpikir panjang mengenai manfaat yang didapat dan kemampuan daya beli.
·
Pada fashion kita melihat banyaknya gaya
jilbab akhir-akhir ini, dengan alasan mengikuti tren, para ibu rumah tangga dan
mahasiswa mengganti model jilbabnya yang dahulu (simpel) menjadi yang lebih
bergaya. Jilbab yang dahulu sudah tidak dipakai lagi.
Dari fenomena yang sudah
dijelaskan di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa masyarakat kita cenderung konsumtif
dan boros. Kebanyakan orang yang mempunyai penghasilan tinggi menggunakan
banyak uangnya untuk keperluan yang bukan primer, sedangkan yang berpenghasilan
rendah juga terkadang hanya mengikuti trend dan meningkatkan gengsi dengan
berperilaku layaknya orang yang berpenghasilan tinggi tanpa memikirkan
kemampuan (menghasilkan uang) yang dimilikinya.www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id
No comments:
Post a Comment