Thursday, 22 September 2011

Kepribadian



Consumer Behavior ( Kelas Perilaku Konsumen ) Tuesday afternoon Departement of Family and Consumer Sciences. College of Human Ecology. Bogor Agricultural University.

Lecturer: Prof.Ir.Ujang Sumarwan, MSc.

Session 2 www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

Teori Kepribadian 
Oleh Fika Fatia Qandhi, Mayor SKPM (Ilmu Keluarga dan Konsumen)
Collage of Human Ecology


Sifat manusia berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan karakteristik yang paling dalam pada diri manusia, perbedaan karakteristik tersebut menggambarkan cirri unik dari masing-masing individu. Inilah yang disebut dengan kepribadian, dimana kepribadian terkait dengan perilaku konsumen. Kepribadian dapat dijadikan dasar dalam melakukan pemangsaan pasar (market segmentation). Perbedaan karakteristik akan mempengaruhi akan mempengaruhi individu. Individu dengan karakteristik yang sama cenderung akan bereaksi yang relatif sama terhadap situasi lingkungan yang sama. Kepribadian menggambarkan respons yang konsisten dan berlangsung lama dan kepribadian dapat berubah.
Terdapat tiga teori kepribadian yang utama yaitu: teori kepribadian Freud, yang menyatakan bahwa kebutuhan yang tidak disadari atau dorongan dari dalam diri manusia adalah inti dari maotivasi dan kepribadian manusia yang didalamnya termasuk Id, Superego, dan Ego. Selanjutnya adalah teori kepribadian Neo-Freud, dimana hubungan sosial adalah faktor dominan dalam pembentukan dan pengembangan kepribadian manusia. Kemudian adalah teori ciri, yang menggunakan pendekatan kuantitatif dalam mengukur kepribadian konsumen. Teori cirri mengklasifikasikan manusia ke dalam karakteristik, sifat, atau cirinya yang paling menonjol.
Horney mengemukakan model kepribadian manusia, yaitu: compliant (kepribadian yang dicirikan adanya ketergantungan seseorang kepada orang lain), aggressive (kepribadian yang dicirikan adanya motivasi untuk memperoleh kekuasaaan), dan detached (kepribadian yang dicirikan selalu ingin bebas, mandiri, mengandalkan diri sendiri, dan ingin bebas dari berbagai kewajiban).
Memahami kepribadian tidaklah lengkap jika tidak memahami konsep gaya hidup. Kepribadian merefleksikan karakteristik internal dari konsumen, gaya hidup menggambarkan manifestasi eksternal karakteristik tersebut, yaitu perilaku seseoarang. Gaya hidup seseorang biasanya tidak permanen dan cepat berubah. Konsep yang terkait dengan gaya hidup adalah psikografik. Psikografik adalah suatu instrumen untuk mengukur gaya hidup, yang memberikan pengukuran kuantitatif, dan bisa dipakai untuk menganalisis data yang sangat besar. Pendekatan psikografik sering dipakai produsen dalam mempromosikan produknya. Studi psikografik bisa dalam beberapa bentuk, yaitu: profil gaya hidup, profil produk spesifik, segmentasi gaya hidup, dan segmentasi produk spesifik.
Para pemasar berusaha mengetahui kepribadian konsumen dan apa pengaruhnya terhadap perilaku konsumsi. Pemahaman tersebut sangat penting agar pemasar dapat merancang komunikasi yang sesuai dengan sasaran konsumen yang dituju. Pemasar mengharapkan konsumen menilai bahwa produk atau jasa tersebut sebagai sesuatu yang cocok kepribadiannya sehingga mereka menyukai, membeli, dan menggunakan produk dan jasa tersebut. Beberapa kepribadian ciri yang khusus dikembangkan untuk kepentingan studi perilaku konsumen adalah kepribadian cirri inovatif konsumen, dogmatism, dan karakter sosial.

MK. Perilaku Konsumen
Selasa, 13.00-15.00

Kelompok 37-40 :
Nazar Kusumawijaya          (nazarkusumawijaya@ymail.com)
Yudhistira Saraswati           (tirayudhistira@gmail.com)
Nurul Maghfiroh                    (maghfiroh.ipbnurul@ymail.com)
Fika Fatia Qandhi                (qandhi_02ichfi@yahoo.com)
Salis Rizka A.P                    (salisrizkaa@yahoo.com)


1.    Karakter Positif:

·         Ramah
·         Simpati dan empati
·         Mau bekerjasama
·         Pekerja keras
·         Mandiri
·         Terbuka
·         Humoris
·         Simpel

·         Konsisten


2.    Karakter Negatif:

·         Boros
·         Suka menunda pekerjaan
·         Kurang teliti
·         Pelupa
·         Tergesa-gesa
·         Sensitif
·         Berprasangka buruk


3.    Gaya hidup masyarakat sekarang cenderung konsumtif. Hal ini terjadi karena moderenisasi sudah mewabah pada zaman globalisasi sekarang ini. Masyarakat berlomba-lomba untuk terus up to-date terhadap perkembangan yang terjadi. Contohnya:
·         Pada barang elektronik, smart phone yang sedang menjadi trend ini diburu oleh semua kalangan. Padahal mereka sudah mempunyai handphone yang sebenarnya mempunyai fasilitas yang hampir sama dari smartphone, tetapi karena ingin mengikuti trend, mereka membelinya tanpa berpikir panjang mengenai manfaat yang didapat dan kemampuan daya beli.
·         Pada fashion kita melihat banyaknya gaya jilbab akhir-akhir ini, dengan alasan mengikuti tren, para ibu rumah tangga dan mahasiswa mengganti model jilbabnya yang dahulu (simpel) menjadi yang lebih bergaya. Jilbab yang dahulu sudah tidak dipakai lagi.

Dari fenomena yang sudah dijelaskan di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa masyarakat kita cenderung konsumtif dan boros. Kebanyakan orang yang mempunyai penghasilan tinggi menggunakan banyak uangnya untuk keperluan yang bukan primer, sedangkan yang berpenghasilan rendah juga terkadang hanya mengikuti trend dan meningkatkan gengsi dengan berperilaku layaknya orang yang berpenghasilan tinggi tanpa memikirkan kemampuan (menghasilkan uang) yang dimilikinya.www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

Tuesday, 20 September 2011

Motivasi dan Kebutuhan


Consumer Behavior ( Kelas Perilaku Konsumen ) Tuesday afternoon Departement of Family and Consumer Sciences. College of Human Ecology. Bogor Agricultural University.

Lecturer: Prof.Ir.Ujang Sumarwan, MSc.

Session 1 www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

Manfaat mempelajari perilaku konsumen
Oleh Fika Fatia Qandhi, Mayor SKPM (Ilmu Keluarga dan Konsumen)
Collage of Human Ecology

Dorongan seseorang untuk melakukan sesuatu disebut sebagai motivasi. Menurut Schiffman dan Kanuk (2000, hal 63) mendifinisikan motivasi  ''Motivation can be described as driving force within individuals that impels them to action. This driving force is produced by state of tension, which exist as the result of an unfulfilled need". Motivasi terbentuk karena adanya rangsangan akibat adanya gap antara apa yang dirasakan dengan apa yang seharusnya dirasakan. Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen. Pengenalan kebutuhan akan menyebabkan tekanan (tension) kepada konsumen sehingga adanya dorongan (drive state) untuk melakukan tindakan (goal-directed behavior). Tindakan tersebut dapat berbagai macam. Tindakan tersebut akan menyebabkan terpenuhinya kebutuhan konsumen (goal of need fulfillment) atau konsumen memperoleh insentif (incentive objects atau consumer incentives). Insentif dapat berbentuk produk, jasa, informasi yang dipandang dapat memenuhi kebutuhan konsumen.

Kebutuhan yang dirasakan konsumen (felt needs) dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu dari diri konsumen sendiri (fisiologis), misalnya rasa lapar dan haus, dan oleh faktor luar konsumen, misalnya aroma makanan yang datang dari restoran sehingga konsumen terangsang ingin makan. Kebutuhan yang datang dari dalam diri seseorang disebut sebagai kebutuhan primer (primary needs). Produk tersebut dibutuhkan konsumen untuk mempertahankan hidupnya. Selain itu, terdapat pula kebutuhan sekunder atau motif. Kebutuhan sekunder atau kebutuhan yang diciptakan (acquired needs) adalah kebutuhan yang muncul sebagai reaksi konsumen terhadap lingkungan dan budayanya. Kebutuhan tersebut biasanya bersifat psikologis. Kebutuhan meliputi self-esterm, prestige, affection power. Kebutuhan yang dirasakan (felt needs) dapat dibedakan berdasarkan manfaat tang diharapkan dari pembelian dan penggunaa produk. Pertama adalah kebutuhan utilitarian (utilitarian needs), yang mendorong konsumen membeli produk karena manfaat fungsional dan karakteristik objektif dari produk tersebut. Kedua adalah kebutuhan ekspresive atau hedonik (expressive needs atau hedonic needs), yaitu kebutuhan yang bersifat psikologis.

Tujuan adalah suatu cara untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan dibedakan ke dalam tujuan generik (generic goals), yaitu kategori umum dari tujuan yang dipandang sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan. Kedua, tujuan produk khusus (specific product goals), yaitu produk atau jasa dengan merek tertentu yang dipilih oleh konsumen sebagai tujuannya.

Salah satu teori kebutuhan adalah teori kebutuhan berjenjang yang dikenal sebagai Teori Maslow atau Hirarki Kebutuhan Manusia ( Maslow's Hierarchy of  Needs). Menurut teori Maslow, manusia berusaha memenuhi kebutuhan tingkat rendahnya terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Maslow mengemukakan lima kebutuhan manusia berdasarkan tingkat kepentinganya. Pertama, kebutuhan fisiologis (Physiological Needs), yaitu kebutuhan dasar manusia untuk mempertahankan hidup. Kedua, kebutuhan rasa aman (Safety Needs), yaitu kebutuhan perlindungan bagi fisik manusia. Ketiga, kebutuhan sosial (Social Needs atau Belonginess Needs), kebutuhan sosial yang berdasarkan kepada perlunya manusia berhubungan satu dengan yang lainnya. Keempat, kebutuhan ego (Egoistic or Esteem Needs), adalah kebutuhan tingkat berprestasi sehingga mencapai derajat yang lebih tinggi dari yang lainnya. Kelima, kebutuhan aktualisasi diri (Need for Self-Actualization), yaitu keinginan dari diri seseorang untuk menjadikan dirinya sebagai orang yang terbaik sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.

www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id